Showing posts with label Cine. Show all posts
Showing posts with label Cine. Show all posts

Monday, March 3, 2008

300



Wednesday, February 27, 2008

CJ7

Adegan dimulai dengan Dicky (Xu Jiao) yang sedang berjalan hendak menuju kelasnya di sebuah sekolah elit, tiba-tiba dimarahi oleh seorang guru. Guru tersebut mempertanyakan wajahnya yang tampak kotor. Untunglah seorang guru wanita yang sungguh cantik, Miss Yuen (Kitty Zhang Yuqi) segera menengahinya sambil mengelap kotoran yang melekat di wajah Dicky. Alasan lusuh dan kotornya Dicky segera terjawab saat adegan berikutnya menggambarkan ayah Dicky, Ti (Stephen Chow), ternyata adalah seorang kuli bangunan yang sedang bekerja di sebuah proyek.

Ti mati-matian mencari uang agar anaknya bisa bersekolah yang notabene bertujuan agar nasib Dicky tidak seperti dia yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan karena tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Karena hanya seorang anak kuli bangunan itulah, di sekolahnya Dicky diperlakukan tidak semestinya baik oleh guru maupun siswa yang lain.

Begitu miskinnya kehidupan mereka berdua, mereka hanya menempati sebuah reruntuhan bangunan. Berdua mereka saling mengasihi layaknya bapak anak tanpa seorang wanita. Karena ibu Dicky meninggal saat melahirkannya. Keceriaan Dicky bermula saat sang ayah membawakan sebuah bola berwarna hijau yang ditemukannya saat memungut sepatu di sebuah tempat pembuangan sampah. Bola itu juga sebagai pengganti hadiah robot anjing, cj1, yang tidak mampu dibelikannya untuk Dicky.

Pada awalnya, tidak ada yang istimewa dari bola berwarna hijau itu. Namun bola itu menjadi istimewa saat bundaran hijau tersebut berubah bentuk menjadi makhluk ruang angkasa mirip anjing. Bersama dengan anjing luar angkasa yang akhirnya diberi nama cj7 itulah, Dicky memulai petualangannya. Mulai dari berkelahi dengan anjing, mendapat nilai 100 saat ujian hingga usaha Dicky yang harus menyelamatkan cj7 saat menjadi rebutan kawan-kawannya.

Keceriaan Dicky bersama cj7 berubah menjadi tragedi saat Ti mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkan hilangnya nyawanya. Dicky pun merasa sangat sedih hingga gurunya pun diusirnya saat mencoba menghiburnya. Pasalnya sebelum ayahnya meninggal, Dicky sempat bertengkar dengannya . Dalam pertengkaran itu Dicky mengatakan bahwa ayahnya tidak perlu memperhatikannya lagi. Dan ucapannya itu seakan-akan menjadi kenyataan dengan meninggalnya Ti.

Ajaibnya, pagi hari saat Dicky terbangun dari tidurnya, Ti sudah ada di sampingnya. Namun, cj7 tiba-tiba menyusut berubah menjadi sebuah boneka. Usut punya usut, ternyata cj7 telah menghidupkan Ti kembali dari kematiannya dengan kekuatan yang dimiliknya. Akibatnya, cj7 pun harus merelakan nyawanya sendiri. Dan meski ditunggu hingga 3 tahun pun Cj7 tetaplah sebuah boneka yang tak lepas dari tangan Dicky.

Sekali lagi dengan sense humornya yang woooow, Stephen Chow berhasil membuat sebuah film yang tetap bernuansa komedi meski bergenre drama komedi. Suasana haru hanya terjadi saat Dicky menangisi kematian ayahnya dan sang guru wanita bersimpuh di depan pintu 'rumah' Dicky. Selebihnya gerak tubuh Stephen mengindikasikan film itu tetap sebuah film komedi. Tambahan lagi setting kemiskinan, khususnya 'rumah' Dicky terbangun dengan apik sehingga menjadikan film itu masih tergali dari sisi dramanya.

Fakta yang menarik dari film ini adalah, pemeran utama Dicky (Xu Jiao) ternyata adalah seorang bocah perempuan usia 9 tahun. Stephen jatuh cinta pada Xu karena tidak ada satupun bocah laki-laki yang aktingnya sesuai dengan karakter Dicky. Padahal Stephen sebelumnya dikenal tidak suka dengan anak-anak.

Bahkan saking cintanya terhadap Xu, Stephen telah mengontraknya selama 8 tahun ke depan dengan nilai kontrak yang besar. Stephen juga telah menanggung biaya studi dan biaya hidup keluarga Xu yang datang dari keluarga miskin di Hangzhou. Dan fakta menarik lainnya adalah mengenai kecantikan alami Kitty yang sungguh sangat menawan yang tentu saja sayang sekali untuk dilewatkan. Untuk yang terakhir ini, saya pikir semua kaum Adam pasti setuju.

Thursday, February 14, 2008

Con Air

Suami mana yang tak berang jika istrinya diganggu orang lain. Karena itulah, Cameron Poe (Nicholas cage), terpaksa membunuh salah seorang dari 3 orang yang menggoda istrinya, Tricia Poe (Monica Potter). Karena itu pula lah pula mantan pasukan elit Ranger dari Angkatan Darat AS itu harus menerima ganjarannya, 8 tahun penjara. Padahal saat itu istrinya sedang hamil.

Dalam perjalanannya menuju kebebasan, dia harus menumpang 'Jailbird', pesawat yang akan membawanya pulang. Ternyata dalam Jailbird berisi pula para napi kelas kakap semacam Cyrus The Virus (John Malkovich), Nathan Jones (Ving Rhames) ataupun Garland Greene (Steve Buscemi).

Tak dinyana, para napi kelas kakap tersebut membajak Jailbird dengan kecerdikannya. Akibatnya kepulangan Poe tidak semulus yang diharapkan. Dengan trik satu sisi sebagai kawan dan satu sisi sebagai lawan dan dengan bantuan seorang polisi Federal, Vince Larkin, Poe berhasil menaklukkan Cyrus. Jailbird pun dengan suksesnya mendarat di jalanan Las Vegas.

Di jalanan itu pula, Poe untuk pertama kalinya bertemu dengan putrinya, Casey Poe (Landry Albright) yang sudah beranjak besar dan tentu saja dengan Tricia yang dirindukannya. Oleh Poe, Casey disodorkan sebuah boneka kelinci kumal yang telah disiapkannya sejak di penjara.

Akting Cage dalam film produksi tahun 1997 ini terbilang biasa seperti aktingnya di filmnya yang lain. Namun plot cerita yang dibangun dengan apik oleh sutradaranya, Simon West, mampu membangun karakter Cage maupun Malkovich.

Adegan sentimentil terjadi saat Buscemi yang dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin menyanyikan sebait lirik lagu yang entah apa judulnya bersama seorang gadis kecil saat Jailbird mendarat darurat di padang pasir. Liriknya 'She's Got The Whole World In His Hand' yang dinyanyikannya berulang kali. Di samping gadis kecil itu, Buscemi tak terlihat sebagai seorang pembunuh berdarah dingin.

Namun adegan paling menyentuh (menurut saya) terjadi saat Casey yang berlindung di belakang Tricia menolak boneka kelinci pemberian ayahnya, karena Casey sendiri melihat Poe mengambilnya dari selokan. Padahal boneka itu dibawa Poe dari sel penjaranya. Saat Casey menolaknya, Poe berkata, "kotor ya," ujarnya. Sambil mengelap boneka itu ke celananya, Poe lantas menyerahkannya lagi ke Casey yang atas dorongan ibunya menerima boneka warna biru itu.

Wednesday, February 13, 2008

Shattered Glass

Kisah nyata seorang jurnalis muda, Stephen Glass, yang berambisi mendapatkan Pulitzer, penghargaan tertinggi dalam bidang jurnalistik. Bukan dengan kerja keras, Glass malah menciptakan kefiksian yang nyata untuk ambisinya tersebut. Kefiksiannya itu ia buat pada pertengahan tahun 90 an saat ia berumur 24 tahun.

Kefiksiannya tersebut ia tuangkan dalan The New Republic, sebuah majalah politik dan satu-satunya majalah yang dibaca di pesawat kepresidenan Amerika, Air Force One. Artikel terakhirnya, Hack Heaven, yang bercerita tentang seorang anak kecil yang berhasil membajak database sebuah perusahaan komputer, Junkt Micronics, telah mengantarkannya masuk ke dalam daftar hitam jurnalistik.

Setelah diteliti, ternyata isi artikel tersebut adalah sampah imajinasi Glass. Tokoh, cerita dan lokasi yang diceritakan di artikelnya tersebut adalah hasil karangan Glass. Sampah imajinasi, setidaknya begitulah yang ada dalam pikiran Chuck Lane, redpel majalah tersebut. Dari kasus itu, terungkap pula bahwa dari 41 artikel yang pernah ditulis Glass di The New Republic, 27 artikel adalah fiktif. Dengan perasaan kecewa dan sedih Glass keluar dari kantor The New Republic saat Lane mengusirnya. Dengan sedih dan marah juga, Lane mencabut seluruh majalah The New Republic yang mana terdapat artikel fiktif Glass yang tertempel di kantornya .

Hayden Christensen dengan sangat baiknya telah menghidupkan karakter Glass yang naif, canggung namun cerdas. Kata-kata 'Are you mad at me ?' yang diucapkan Hayden berkali-kali dengan terbata-bata membuat karakter Glass sungguh hidup. Di film ini akting Hayden sungguh memikat dibandingkan dengan perannya sebagai Anakin Skywalker dalam Stars Wars.

Film yang diproduksi pada 2003 ini seharusnya menjadi film wajib tonton bagi wartawan. Namun, setiap wartawan yang saya tanya tentang siapa itu Stephen Glass, kebanyakan dari mereka pasti menjawab,"Siapa dia ?".